SERANG, BANTENINTENS.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, mencatat kasus demam berdarah (DBD) sepanjang tahun 2022 mencapai 400. Jumlah tersebut berdasarkan laporan yang didapat dan 3 diantaranya meninggal dunia.

Kepala Dinkes Kota Serang, Ahmad Hasanduddin, mengungkapkan bahwa kasus DBD tahun ini jumlahnya meningkat cukup signifikan karena banjir 1 Maret 2202. Peningkatannya mencapai 50 persen, dari tahun sebelumnya sekitar 200 kasus di tahun 2021.

“Jumlah DBD ada sekitar 400, ada perbedaan jumlah antara tahun lalu, karena kita kena musibah banjir. Meningkatnya cukup tinggi hingga 50 persen, dulu hanya sekitar 200, ada yang meninggal memang dan itu tidak bisa kita pungkiri tapi tidak sampai 5,” ujarnya, Rabu (14/12/2022).

Hasan menjelaskan, banjir dahsyat yang menerjang Kota Serang awal tahun lalu menyisakan genangan yang menimbulkan jentik nyamuk. Sebab menurutnya, kaleng bekas atau lubang kecil saja apabila ada air di sana, dapat menimbulkan jentik nyamuk Aedes aegepty.

“Karena banjir itulah akhirnya menyisakan tampungan-tampungan air, contoh kaleng dan itu tidak kita sadari. Kaleng diem di pojokan bekas menampung air banjir, akhirnya timbul jentik dan jumlah kasusnya naik,” katanya.

Hasan mengatakan, bahwa pertumbuhan nyamuk Aedes aegepty berbeda dengan nyamuk lainnya. Sebab, jentik jenis nyamuk tersebut bisa timbul tidak hanya pada air jernih saja

“Nyamuk DBD adalah jenis aides aegepty, beda dengan yang lain. Karena bisa hidup tidak di air yang jernih, di tempat minum ayam dan bekas sarang burung pun jentik nyamuk akan timbul,” ucapnya.

Oleh sebab itu, untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN) tidak bisa disemprot akan selesai. Akan tetapi, Hasan meminta agar tidak khawatir akan hal tersebut karena nyamuk Aedes aegypti dewasa bisa dibunuh dengan obat nyamuk seperi Baygon.

“Tapi masyarakat jangan khawatir. Sebetulnya di rumah tangga bisa pakai obat nyamuk biasa pun akan mati, pakai Baygon,” tuturnya.

Menurutnya, ada kekeliruan masyarakat apabila terdapat kasus DBD, kemudian meminta langsung diadakan fogging atau penyemprotan. Karena penyemprotan itu hanya akan membunuh nyamuk dewasa.

“Kebanyakan warga minta difogging, disemprot. Itu hal yang keliru, karena kalau disemprot yang mati hanya nyamuk dewasanya saja, nanti timbul lagi karena jentiknya kan masih ada dan jentik itu akan jadi dewasa,” jelasnya.

Untuk penanganannya, kata dia, bisa dengan cara mengalirkan air yang menggenang baik got dan genangan lainnya. Tak hanya itu, di Puskesmas juga ada Abate atau obat pemberantas jentik nyamuk dan masyarakat bisa meminta secara gratis.

“Jadi apabila kaleng yang ada genangan air itu harus dibersihkan. Kemudian ada juga Abate untuk ditabur ke penampungan-penampungan air supaya tidak timbul jentik-jentik, dulu Abate dibagikan, sekarang tidak tapi bisa didapatkan di Puskesmas, gratis,” terangnya

Pihaknya juga melalui Puskesmas memberikan pemahaman terkait dengan penanganan DBD. Petugas yang ditunjuk adalah bagian promosi kesehatan, yang memberikan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya nyamuk Aedes aegypti.

“Kami ada program dari pihak Puskesmas, kita punya petugas promosi yang memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan hal ini (DBD, red),” tandasnya. (Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini