SERANG, BANTENINTENS.CO.ID – Hujan deras yang terus melanda Kota Serang membuat penanganan banjir menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Serang. Berbagai upaya dilakukan oleh Walikota Serang Budi Rustandi untuk penanganan banjir di Kota Serang.
Setelah mengunjungi posko Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Lanud Halim Perdanakusumah pada Selasa (13/1/2026). Hari ini Rabu (24/1/2026) Walikota Serang mendatangi Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3).
Walikota Serang Budi Rustandi menggelar rapat koordinasi bersama pemerintah kabupaten, kota se-Provinsi Banten, dan BBWSC3, menyusun pembagian tugas agar proyek penanggulangan banjir bisa berjalan lebih cepat dan efektif.
Diskusi difokuskan pada pembagian tanggung jawab serta penanganan titik-titik rawan banjir yang berada di lintas wilayah sungai.
Walikota Budi Rustandi menjelaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten akan mengambil alih penanganan proyek lama yang selama ini menjadi kendala, sementara balai teknis, bersama BBWSC3, akan fokus menyelesaikan proyek di wilayah Ciwaka dan area aliran sungai yang terdampak.
Menurutnya, pembagian tugas ini penting agar pekerjaan lebih cepat dan tidak tumpang tindih.
“Semua dilakukan bertahap. Provinsi menangani proyek lama, balai dan BBWSC3 fokus di Ciwaka dan aliran sungai. Dengan begitu, pengerjaan bisa lebih cepat dan jelas siapa yang bertanggung jawab,” kata Budi.
Ia menambahkan, Pemkot Serang juga menyiapkan rapat lanjutan untuk memastikan kesiapan dukungan teknis, termasuk penurunan alat berat dari Pemprov Banten dan BBWSC3 ke lokasi proyek lama.
“Setiap tahap pekerjaan harus terpantau. Alat berat dan personel siap agar pengerjaan tidak tertunda,” ujarnya.
Walikota juga menekankan pentingnya koordinasi lintas wilayah.
“Banjir bukan persoalan satu daerah saja. Sinergi dengan kabupaten, kota, provinsi, dan BBWSC3 menjadi kunci agar penanganan cepat dan tepat sasaran,” jelasnya.
Sementara itu, ܼKepala BBWSC3, Dedi Yudha mengatakan, langkah penanganan banjir di Kota Serang yakni jangka pendek meliputi normalisasi sungai, pembersihan sedimen, dan penertiban lahan yang melanggar di sepadan sungai.
“Fokus kami di Sungai Ciwaka, Komplek Grand Sutera, serta Sungai Cibanten, Kali Mati, Kroya, dan beberapa sungai lain. Pemukiman di sepadan sungai meningkatkan debit air saat hujan tinggi, sehingga terjadi banjir,” katanya. (Red)









