SERANG, BANTENINTENS.CO.ID – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fraksi Partai Nasdem Dapil Banten II, Furtasan Ali Yusuf, meminta evaluasi pada penyajian menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama di tingkat pelaksana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Furtasan, secara konsep program tersebut sudah berjalan baik dan menjadi prioritas pemerintah pusat. Ia menilai yang perlu diperbaiki adalah teknis pelaksanaan di lapangan, khususnya terkait kualitas menu yang disajikan kepada siswa.
“Programnya sudah bagus, kita tinggal dorong saja. Kalau ada kelemahan, kita evaluasi. Soal menu memang harus dikoreksi di penyelenggaraannya,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Ia menyoroti agar makanan yang diberikan tidak sekadar jajanan kemasan atau produk ritel. Tujuan utama program, kata dia, adalah meningkatkan asupan gizi anak, bukan sekadar menyediakan makanan.
“Jangan sampai jajanan warung atau minimarket yang disajikan. Kalau seperti itu, anak-anak bisa beli sendiri. Yang kita harapkan ada peningkatan gizinya,” katanya.
Furtasan menjelaskan, dirinya bukan mitra pelaksana program tersebut. Ia menempatkan diri sebagai pihak yang mengawasi manfaatnya bagi siswa. Namun, ketika ditemukan hal yang kurang tepat, ia mengaku perlu turun langsung melakukan pengecekan.
Ia juga memastikan anggaran MBG tidak mengurangi porsi anggaran pendidikan. Menurutnya, alokasi dana program tersebut sudah memiliki pos tersendiri dalam APBN.
“Anggaran pendidikan tetap ada, tidak diambil untuk program ini. Sudah ada posnya masing-masing,” ucapnya.
Dari hasil inspeksi mendadak ke sejumlah sekolah, Furtasan menghitung nilai bahan makanan yang disajikan berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi. Sementara Rp5.000 lainnya dialokasikan untuk operasional, sehingga total anggaran mencapai Rp15.000 per siswa.
“Secara hitungan masuk. Cuma menu yang disajikan ini yang perlu kita koreksi,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar pembagian makanan tidak dirapel, terutama selama Ramadan, karena dapat memengaruhi kualitas dan kelayakan konsumsi.
Furtasan menilai sarana dan fasilitas penyedia layanan sudah cukup baik karena telah tersertifikasi. Namun, pengawasan terhadap bahan baku dan penyajian harus dilakukan secara rutin.
“Menurut saya harus terus diaudit. Kalau ada yang tidak layak, sampaikan ke penyelenggaranya. Programnya tetap kita dukung,” tandasnya. (Red)









