SERANG, BANTENINTENS.CO.ID – Kehadiran Kafe Baca Tulis BalaKosong yang berlokasi di Pusat Jajan Serba Ada (Pujasera) Stadion Maulana Yusuf, Ciceri, Kota Serang membuka ruang baru bagi penyandang disabilitas untuk berusaha sekaligus berkegiatan literasi.
Tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai kafe, tetapi juga menjadi wadah menyalurkan karya tulis dan memperkenalkan produk UMKM dari kalangan penyandang disabilitas.
Owner Balakosong, M Yusuf menyebut inisiatif yang lahir dari komunitas ini menunjukkan semangat kemandirian penyandang disabilitas. Menurutnya, konsep yang diusung BalaKosong mampu menggabungkan kegiatan ekonomi dan literasi dalam satu ruang yang inklusif.
“BalaKosong ini lahir dari teman-teman penyandang disabilitas sendiri. Konsepnya sederhana, nongkrong sambil baca buku yang disediakan, dan kalau ada yang punya puisi atau cerpen, bisa ditulis dan diserahkan. Ini bukan hanya soal usaha, tapi juga ruang ekspresi,” ujarnya, Sabtu (3/1/2026).
Ia menjelaskan, ide BalaKosong bermula dari pertemuan informal antar penyandang disabilitas yang rutin ngopi bersama. Dari obrolan sederhana tersebut, muncul gagasan membangun ruang usaha bersama yang bisa menampung potensi mereka.
“Awalnya cuma ngopi-ngopi biasa. Dari situ dirangkum, dibantu juga oleh SKH, mulai dari konsep sampai penyediaan buku-buku yang sudah tidak terpakai tapi masih layak dibaca. Akhirnya buku-buku itu dimanfaatkan di sini,” katanya.
Yusuf menilai, konsep kafe baca tulis ini memberi ruang aman bagi penyandang disabilitas yang ingin memulai usaha, namun masih ragu soal arah dan penerimaan pasar.
“Teman-teman ini punya keinginan usaha, tapi sering bingung arahnya ke mana. Di sini mereka belajar, baik secara mental maupun usaha, apakah produk mereka bisa diterima masyarakat umum,” ucapnya.
Terkait pendanaan, ia menyampaikan pembangunan BalaKosong dilakukan secara kolaboratif. Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk SKH, Agra Institute, dan sejumlah relawan yang ikut berkontribusi.
“Dana pembuatan ini hasil kolaborasi dan patungan. Ada support dari SKH, Agra Institute. Semua ikut menyumbang sesuai kemampuan,” katanya.
Soal pengunjung, Yusuf menyebut respons masyarakat cukup baik meski belum optimal karena faktor cuaca dan momen awal tahun.
“Pengunjung Alhamdulillah ramai, walaupun masih dipengaruhi hujan dan suasana tahun baru. Kami jalani pelan-pelan. Harapannya produk UMKM penyandang disabilitas bisa diterima luas,” ujarnya.
Ia juga mengakui hingga saat ini belum ada keterlibatan langsung dari pemerintah daerah karena inisiatif tersebut masih berjalan secara mandiri.
“Dari pemerintah memang belum ada peran langsung, karena kami juga belum banyak menyampaikan. Saat ini masih bergerak bersama SKH dan teman-teman komunitas,” jelasnya.
Ke depan, ia berharap BalaKosong dapat berkembang menjadi contoh ruang usaha inklusif yang berangkat dari inisiatif komunitas dan memberi manfaat nyata bagi penyandang disabilitas di Kota Serang. (Red)









