SERANG, BANTENINTENS.CO.ID – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten pada triwulan pertama 2026 tercatat sebesar 5,64 persen atau sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,61 persen. Kondisi tersebut masih berada dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia di tengah tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.
Hal tersebut terungkap saat Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia Provinsi Banten menggelar Taklimat Media dengan tema “Resilensi Ekonomi Banten di Tengah Ketidakpastian Kondisi Geopolitik Dunia” yang dilaksanakan di salah satu kafe di Kota Serang, Kamis (7/5/2026).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Ameriza M Moesa mengatakan, ketidakpastian global masih dipengaruhi konflik geopolitik dan kenaikan harga energi dunia, terutama minyak.
“Kenaikan harga energi ikut mendorong perbelanjaan minyak dunia, termasuk Indonesia. Dampak global ini juga membuat lembaga internasional seperti IMF dan World Bank merevisi pertumbuhan ekonomi dunia,” ujarnya.
Ia menyebutkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi global terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2026, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan hanya berada di kisaran 3 persen.
Meski demikian, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih stabil dan belum mengarah pada resesi. Pertumbuhan nasional tetap berada dalam rentang perkiraan Bank Indonesia, yakni sekitar 4,9 hingga 5,7 persen.
Menurut Ameriza, pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun banyak ditopang konsumsi pemerintah yang meningkat hingga sekitar 21 persen. Faktor tersebut dipicu percepatan sejumlah program pemerintah serta belanja negara pada awal tahun.
Selain itu, sektor akomodasi, makan dan minum juga mengalami peningkatan seiring momentum Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada akhir Maret 2026. Kondisi tersebut mendorong aktivitas perdagangan, transportasi hingga pariwisata.
Di Banten, pertumbuhan ekonomi masih didominasi sektor industri pengolahan, terutama industri kimia dan manufaktur. Sektor pertanian juga mengalami peningkatan, disusul transportasi dan pergudangan akibat tingginya mobilitas masyarakat saat libur Lebaran.
“Transportasi, pergudangan, termasuk akomodasi dan makan minum ikut meningkat karena aktivitas masyarakat dan pariwisata selama libur panjang,” katanya.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Banten lebih banyak ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi. Investasi yang masih tumbuh dinilai menunjukkan kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Banten tetap terjaga.
Ameriza menambahkan, kontribusi ekonomi Banten terhadap nasional mencapai sekitar 4,01 persen. Sementara dari sisi penduduk, Banten menyumbang sekitar 7 persen populasi di Pulau Jawa.









