SERANG, BANTENINTENS.CO.ID – Program Serang Mengaji tidak hanya mendorong kemampuan Siswa dalam membaca Al-Qur’an, tetapi juga dinilai berdampak pada menurunnya kenakalan remaja, kekerasan di sekolah, hingga tradisi negatif saat kelulusan.


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Seran, Ahmad Nuri mengatakan, pembiasaan mengaji yang dijalankan di sekolah memberi ruang kegiatan positif bagi pelajar, sehingga perilaku menyimpang dapat ditekan.


“Di masjid-masjid, di kampung-kampung, suasana lebih kondusif. Perang petasan hampir tidak ada. Kenakalan remaja dan kekerasan di sekolah juga nyaris tidak terlihat,” kata Ahmad Nuri, Rabu (29/4/2026).


Ia menilai siswa kini lebih banyak disibukkan dengan kegiatan pembelajaran dan pembinaan karakter, sehingga peluang terjadinya bullying maupun tindakan kekerasan semakin kecil.


Menurut Nuri, kebiasaan membaca Al-Qur’an juga membawa perubahan sikap di lingkungan sekolah. Nilai kasih sayang, saling menghormati, dan pendekatan kemanusiaan mulai tumbuh di kalangan pelajar.


“Anak-anak dibiasakan membaca lafaz yang mengajarkan kasih sayang. Dari situ perilaku yang sebelumnya keras bisa berubah menjadi lebih baik,” ujarnya.


Selain itu, tradisi corat-coret seragam saat kelulusan juga mulai berkurang. Ia menyebut laporan gangguan ketertiban selama Ramadan lalu nyaris tidak ada.


“Kalau melihat laporan yang masuk ke sekolah, dinas, maupun aparat, hampir kosong. Artinya dampaknya sangat terasa,” ucapnya.


Walikota Serang, Budi Rustandi mengatakan، program Serang Mengaji turut menekan aksi perang sarung dan tawuran yang kerap muncul di kalangan remaja.


“Insyaallah perang sarung dan kegiatan negatif lain berkurang. Anak-anak sekarang didampingi para kiai dan ustaz,” kata Budi.


Ia juga menegaskan kegiatan corat-coret saat perpisahan sekolah tidak dibenarkan dan harus ditinggalkan.


“Perpisahan corat-coret tidak dibolehkan. Ini bisa ditekan dan sudah ada buktinya setelah Ramadan kemarin,” ujarnya.


Budi berharap budaya mengaji tidak berhenti di sekolah, tetapi terus dilakukan di rumah, masjid, dan lingkungan masyarakat agar pelajar terus mendapat pembinaan keagamaan.


“Jangan hanya di sekolah. Ilmunya harus terus diperdalam,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini